PDF Google Drive Downloader v1.1


Báo lỗi sự cố

Nội dung text Insiden Pantai.pdf

Pantai Kenjeran sore itu ramai seperti biasa. Laut pasang naik membawa aroma asin yang menyengat, bercampur dengan asap sate cumi dan teriakan anak-anak yang bermain layangan. Di antara keramaian, dua pasang kaki berjalan beriringan, menyisakan jejak samar di pasir yang basah. Riski menggenggam tangan Vita erat-erat. Jari mereka saling bertaut, serasi, seolah dunia memang diciptakan untuk mereka berdua. Vita tersenyum, memejamkan mata, menikmati angin yang menyibak rambut panjangnya. Wajahnya bulat, dengan kulit kuning langsat yang halus. Ia mengenakan blouse putih tipis dan celana kulot krem, sederhana tapi anggun. Saat tertawa, matanya menyipit dan suara tawanya seperti derik mangga muda yang digigit. “Kapan terakhir kali kamu ke sini?” tanya Vita, memandang ke laut. “SMA. Sama anak-anak warnet. Waktu itu kita minum es degan lima gelas, abis itu muntah bareng,” jawab Riski, terkekeh. Vita memukul pelan pundaknya. “Dasar cowok.” “Sekarang aku ke sini buat yang bener,” ujar Riski, menatap mata Vita serius. “Buat kamu.” Mereka berhenti sejenak. Mata mereka saling bertemu. Namun dunia tak pernah membiarkan kebahagiaan terlalu lama tinggal.
Dari balik deretan warung, dua pria sedang duduk di atas motor bebek rongsok. Yang satu gemuk dan pendek, berwajah bopeng dengan mata sipit. Satunya lebih besar dan gempal, rambut gondrong, mata satu tertutup tambalan kulit bekas luka bakar. Mereka mengenakan jaket ojek tua dengan badge "TUKANG PARKIR RESMI", tapi semua orang tahu, mereka bukan siapa-siapa selain pengganggu. Pria bopeng itu adalah Parjo. Yang besar dan hitam itu adalah Prapto. Parjo meludahkan sisa rokoknya, lalu bersiul panjang. Matanya menelusuri tubuh Vita dari ujung rambut sampai mata kaki. “Waduh, yang putih itu empuknya kayak bantal hotel bintang lima...” Prapto terkekeh, “Bisa patah pinggang tuh kalo dipake, Jo...” Mereka tertawa keras. Riski berhenti berjalan. Napasnya memburu. Ia tahu betul suara-suara itu ditujukan untuk Vita. “Riski...,” suara Vita pelan. Ia menarik tangan Riski. Tapi Riski sudah melepaskan genggaman itu. “Woi anjing! Mau kurobek mulutmu, ha?!” Parjo berdiri dari motor. Ia tak mundur, malah menyeringai. “Sabar, sabar, Mas Ganteng. Cuma muji doang kok. Ceweknya kan cakep.” “Bacott!” Riski maju setapak. “Kamu mau saya seret ke pos polisi?!” Vita merangkul tangannya, menarik lagi. Wajahnya tegang. “Bi, please... jangan diladenin. Mereka cari ribut. Ayo pergi.” Parjo menatap Vita lekat-lekat. Matanya tak bergeser saat Riski dan Vita berbalik dan pergi. Ia tak membalas makian, hanya menyeringai... dalam diam. Beberapa menit kemudian, setelah berjalan cukup jauh dari titik itu, Vita menarik napas lega. “Kamu itu kalau marah serem banget.”
“Gak bisa aku diem, Vit. Tadi dia ngomong kayak gitu... kayak kamu barang.” “Ya tapi kamu jangan terpancing... mereka kayak ular. Gak usah dilawan.” Riski memeluk Vita dari samping. Ia mencium pelipisnya. “Maaf ya. Aku cuma gak terima kamu dihina.” Vita tersenyum dan membalas pelukannya. “Aku tahu.” Sebelum pulang, Riski mampir ke toilet umum di ujung pantai. Ia meninggalkan Vita duduk di bangku kayu di bawah pohon waru besar. Waktu itu matahari mulai turun, dan angin laut bertiup makin kencang. Yang mereka tidak tahu—Parjo mengikutinya. Saat Riski masuk ke bilik, pintu toilet utama terbuka sedikit. Bayangan masuk diam-diam dari belakang. Langkahnya ringan, nafasnya tenang. Di tangannya ada belati kecil berukir aksara Jawa kuno. Ujungnya hitam keunguan, seperti pernah direndam dalam darah. Vita sedang menunggu. Matanya memandangi laut, senyum tipis masih menempel di bibirnya. “Riski, lama banget sih...” Tapi bukan Riski yang muncul. Parjo, berjaket lusuh dan mata licik, berdiri di belakangnya. “Permisi, Nduk.” Vita menoleh, belum sempat berteriak— Cekkk!! Belati masuk ke bawah tulang rusuk. Sekali, lalu dua kali. Dunia Vita runtuh dalam sekejap. Darah membasahi bajunya. Matanya membelalak, tapi suara tak keluar. Parjo menahannya jatuh, memeluk tubuhnya dengan lembut seperti menangkap bunga yang jatuh dari pohon. Bibirnya berbisik.

Tài liệu liên quan

x
Báo cáo lỗi download
Nội dung báo cáo



Chất lượng file Download bị lỗi:
Họ tên:
Email:
Bình luận
Trong quá trình tải gặp lỗi, sự cố,.. hoặc có thắc mắc gì vui lòng để lại bình luận dưới đây. Xin cảm ơn.