Content text Panduan Praktikum Hewan Coba.pdf
1 ACARA PENANGANAN HEWAN COBA A. Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk: 1. Mengenal jenis-jenis hewan coba dalam penelitian fisiologi hewan. 2. Mempelajari teknik penandaan, perlakuan zat uji, teknik koleksi darah, anestesi dan eutanasia hewan coba (rodensia). 3. Mempelajari teknik pembuatan serum dan plasma. B. Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain: 1. Tikus (Rattus norvegicus Berkenhout, 1796) 2. Mencit (Mus musculus L.) 3. Marmot (Cavia sp.) 4. Ketamin Ketalar® 5. Larutan garam fisiologis 6. Larutan asam pikrat 7. EDTA 8. Etanol 70% 9. Pakan standar tikus 10. Akuades 11. Sekam bersih 12. Centrifuge 10.000 rpm 13. Jarum kanul / sonde 14. Sarung tangan 15. Syringe ukuran 1 mL 16. Jarum suntik 23 G dan 27 G 17. Mikrohematokrit 18. Microtube 19. Kandang mencit / tikus dan botol minuman C. Dasar Teori Hewan yang menjadi obyek penelitian di bidang biologi beraneka ragam, mulai dari hewan tingkat rendah (avertebrata) bahkan hewan satu sel sampai dengan hewan tingkat tinggi (vertebrata). Pada penelitian yang bertujuan untuk dapat diaplikasikan pada manusia umumnya digunakan hewan dari kelompok kelas yang sama dengan manusia yaitu mammalia. Hewan percobaan tingkat pertama umumnya dari golongan rodensia dan unggas, tahap selanjutnya dapat digunakan hewan-hewan dari golongan ruminansia. Hewan percobaan yang paling tinggi adalah dari kelompok primata. Beberapa jenis hewan coba yang umum digunakan dalam penelitian bidang fisiologi hewan antara lain: 1. Mencit ( Mus musculus L.) Badan mencit berukuran kecil, ketika berumur 4 minggu beratnya sekitar 18-20 gram dan ketika dewasa beratnya dapat mencapai 35 gram. Mencit laboratorium adalah jenis albino, berwarna putih bersih dan bermata merah. 2. Tikus (Rattus norvegicus Berkenhout, 1796) Tikus laboratorium berukuran lebih besar daripada mencit. Pada umur 4 minggu beratnya berkisar antara 40 - 50 gram dan ketika dewasa beratnya dapat mencapai 300
2 gram. Dibandingkan dengan tikus liar, tikus laboratorium lebih cepat mencapai dewasa dan mudah berkembang biak. 3. Marmot (Cavia sp.) Marmot tidak mempunyai ekor menonjol. Tidak seperti anak mencit dan tikus, ketika lahir tubuh anak marmut sudah diliputi rambut dan mata sudah mulai membuka. Hewan ini kurang baik untuk penelitian immunologi karena memiliki respon imun yang kurang sensitif. 4. Kelinci (Nesolagus sp.) Kebalikan dengan marmot, kelinci sangat baik untuk hewan percobaan di bidang Immunologi karena memiliki respon imun sangat sensitif. Hewan ini banyak digunakan untuk membuat antiserum yang sangat penting dalam pelaksanaan uji imunodiagnostik. Selain hewan-hewan tersebut di atas masih ada beberapa jenis hewan yang digunakan dalam penelitian misalnya hamster, gerbil, unggas, dsb. Ayam dapat digunakan yang baru saja menetas yang dikenal sebagai DOC (day-old chick) maupun yang dara atau dewasa. Unggas sangat baik untuk penelitan di lingkup endokrinologi, biologi reproduksi dan perkembangan. PENANDAAN HEWAN COBA Penempatan sejumlah hewan coba di dalam satu kandang pemeliharaan bertujuan untuk efisiensi ruang. Oleh karena itu diperlukan penandaan untuk masing-masing kelompok atau individu sehingga mudah diamati dan tidak saling tertukar pada saat pengambilan data yang berulang selama masa perlakuan atau di akhir perlakuan. Penandaan dapat dilakukan dengan beberapa cara berdasarkan pertimbangan yang disesuaikan dengan rancangan penelitian atau alasan tertentu: 1. Mencantumkan label atau kartu catatan pada setiap kandang hewan 2. Mengoleskan pewarna yang aman (contoh asam pikrat) pada rambut hewan coba. Zat ini cukup awet melekat pada rambut. Pengolesan atau pengusapan ini tidak dilakukan di seluruh tubuh, tetapi cukup di bagian tertentu saja, sehingga masing-masing kelompok atau individu memiliki pola tersendiri. 3. Membuat lubang pada telinga hewan coba dengan posisi lubang tertentu. 4. Memakaikan anting dari logam (ear tag) yang sudah diberi tanda. Alternatif ini biasa digunakan pada hewan yang lebih besar, misalnya marmot, untuk menghindari agar tanda tersebut tidak hilang. TEKNIK MEMEGANG HEWAN COBA Memegang hewan coba membutuhkan teknik khusus supaya hewan tersebut tidak memberontak. Kesalahan penanganan mengakibatkan hewan stres sehingga data yang didapatkan tidak valid dan juga dapat melukai peneliti misalnya digigit atau dicakar. Salah satu teknik memegang tikus ditunjukkan pada Gambar 2a.
3 PERLAKUAN (RUTE ADMINISTRASI) ZAT UJI Perlakuan terhadap hewan uji dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung tujuan penelitian dan sifat (fisika dan kimia) zat yang akan diperlakukan. Beberapa cara yang sering dilakukan antara lain: 1. Enteral Perlakuan terhadap hewan coba dengan memasukkan zat uji melalui saluran pencernaan. Dapat dilakukan dengan mencampurkan zat tersebut dengan makanan/minuman (per oral) atau dengan menggunakan jarum kanul/sonde (oral gavage). Perlakuan zat uji menggunakan sonde ditunjukkan Gambar 2b. 2. Par enteral Perlakuan terhadap hewan coba dengan memasukkan zat uji selain melalui saluran pencernaan yang dapat dilakukan dengan beberapa cara, ditunjukkan pada Gambar 3a- d. a. Subkutan (suntikan bawah kulit, S.C.), perlakuan zat uji dengan menyuntikkan zat tersebut di bawah kulit area punggung atau perut. b. Intra muscular (I.M.), perlakuan zat uji dengan cara menyuntikkan zat tersebut pada otot tungkai atas depan atau belakang. c. Intra vena (I.V.), perlakuan zat uji dengan menyuntikkan zat tersebut ke dalam vena lateralis ekor. d. Intraperitonial (I.P.), perlakuan zat uji dengan menyuntikkan zat tersebut pada di daerah abdomen diantara kartilago xiphoidea dan simphisis pubis. Gambar 2. Teknik memegang tikus (a); Perlakuan zat uji menggunakan jarum kanul/sonde (b). (Dok. Pribadi) TEKNIK KOLEKSI DARAH Koleksi atau sampling darah dilakukan sesuai kebutuhan dan volume yang diinginkan oleh peneliti. Lokasi pengambilan darah diantaranya: a. Vena Koleksi darah dari pembuluh vena menghasilkan darah dalam jumlah sedikit (<0,1 mL), dapat diambil melalui superficial vein seperti pada vena ekor, vena saphenous, vena jugular, atau vena marginal telinga. a b